Surabaya telah berubah . Setidaknya, kota metropolitan terbesar kedua setelah Jakarta ini telah mulai "berevolusi " menjadi sebuah kota yang lebih harmoni . Ungkapan ini bukan sebuah idealisasi, bukan juga sebuah kalimat basa basi, melainkan fakta yang bisa ·dirasakan secara visual ketika seseorang berada di kota ini. Tak hanya itu , perubahan itu juga berbuah pujian dan penghargaan .
Dalam
konteks pengelolaan kota, jika sudut ukurnya adalah bidang infrastruktur,
sementara ini belum ada kota yang bisa melampaui prestasi Surabaya . Betapa
tidak, tahun lalu Surabaya meraih lima Tropi PKPD-PU sebagai penghargaan atas
kiprah para pemangku kota ini melakukan pengelolaan di lima bidang : Sanitasi
Persampahan, Penanganan Permukiman Kumuh Perkotaan , Pembinaan Bangunan Gedung
, Pengelolaan Jalan dan Jembatan, serta Pembinaan Jasa Konstruksi. Bahkan ,
satu tahun sebelumnya Surabaya juga meraih Tropi PKPD-PU untuk Bidang Penataan Ruang, yang tahun 2007 lalu ini khusus untuk kategori Kota Metropolitan
tidak dilombakan .
Prestasi
Surabaya di bidang pengelolaan infrastruktur itu ternyata merupakan sebuah
mata rantai penting dari sebuah upaya yang dilakukan pengelola kota ini untuk
mewujudkan sebuah Kota yang Harmonis (The Harmonious Cities).
Fenomena
Surabaya dengan prestasinya di bidang ,infrastruktur tidak bisa dilepaskan dari
visi Bambang Dwi Hartanto , yang dipercaya warga Surabaya untuk menjadi
walikota mereka. Bambang D.H, begitu namanya biasa ditulis, ternyata merupakan
seorang walikota yang sangat melek infrastruktur. Bahkan, secara sa'dar ia
menjadikan pembenahan sektor ini sebagai pintu masuk pembenahan Surabaya.
Prinsipnya
sederhana: bahwa kota yang secara fisik dan visual memberikan kenyamanan pada
warganya maka hal itu merupakan modal penting yang akan memberikan efek domino
bagi harmonisasi di sektor-sektor kehidupan lain. Memang, prinsip itu terkesan
abstrak. Oleh karena itu, secara khusus KIPRAH terbang ke Surabaya untuk
menemui laki-laki yang telah dua periode memimpin Surabaya sebagai Walikota
ini. untuk menggali lebih dalam visinya tentang Kota yang Harmonis. Tentu saja,
dalam konteks Surabaya. Berikut petikannya:
Hari Habitat tahun ini mcmiliki tema Harmonious Cities Sebagai
Walikota Surabayal, yang belakangan ini dipuji karena meraih berbagai prestasi
dibidang pengelolaan infrastruktur, seperti apa visi anda tentang kota yang
harmonis?
Saya
ingin mengawali dengan analog antara kota dan orkestra. Bagi saya, harmoni
adalah keseimbangan. Pada sebuah orkestra harmoni musik yang dimainkan ada di
tangan sang konduktor. Dialah yang memadu harmoni. Dalam konteks pengelolaan,
seorang Walikota adalah sang konduktor. la harus mampu mewujudkan sebuah
keseimbangan antara seluruh elemen kehidupan yang ada di kota ini. Nah, waktu
saya mulai menjabat sebagai Walikota, saya melihat ada yang tidak pas dengan
Surabaya sebagai sebuah habitat kehidupan. Ada masalah besar. Nah, saya
akhirnya memilih untuk menjadikan pembenahan fisik kota sebagai pintu masuk
untuk mewujudkan keharmonisan itu,
Maksudnya?
Beberapa
hari setelah menjabat sebagai Walikota, saya membaca sebuah surat pembaca di
Jawa Pos yang mengomentari Surabaya sebagai kota yang sakit. Sakit secara fisik
dan social.
Respon Anda membaca surat pembaca itu?
Secara
fisik, ketika itu Surabaya memang relatif 'sakit'. Di musim panas, siang sangat
terik. Pada malam hari, sisa-sisa panas itu masih terasa. ltu terjadi karena
waktu itu Surabaya miskin pohon. Sementara di musim hujan, sungai-sungai meluap
karena saluran pematusan (baca: drainase) tidak lancar. Suasana yang seperti
itu semakin membuat masyarakat Surabaya. yang berkarakter temperamental,
menjadi semakin mudah murah dan emosi, yang pada akhirnya menjauhkan kehidupan
sosial dari suasana harmonis. Nah, karena itu saya semakin yakin bahwa fisik
kota sangat berpengaruh pada keharmonisan hidup di sektor non-fisik. ltu visi
saya.
Visi terkadang tidak mudah diwujudkan. Lantas, bagaimana
Anda menjabarkan visi anda?
Sebagai
seorang Walikota, sebelum memutuskan sebuah kebijakan yang tepat bagi kota,
pemetaan terhadap persoalan harus jelas. Oleh karena itu, saya melakukan
identifikasi tentang berbagai masalah yang ada sehingga saya bisa menyusun
program yang tepat agar kota yang identifikasi sakit secara fisik dan sosial
ini bisa segera menjadi sehat. Di sektor infrastruktur fisik, saya perintahkan
Dinas-Dinas Teknis untuk menyusun rencana induk, seperti rencana induk sistem
drainase kota, dan sebagainya . Ternyata, setelah rencana induk itu jadi,
hasilnya mencengangkan : Surabaya sering banjir karena banyak saluran pematusan
yang tidak tembus laut. Aliran sungai-sungai seperti Kali Kebonagung, Kali
Bokor, Kali Wonorejo , dan sebagainya terhalang oleh penyempitan di mulut muara
. Bayangkan, ada mulut muara yang hanya tinggal dua meter saja. Akibatnya,
terjadi efek bottle neck (melambat), yang pada akhirnya menimbulkan genangan.
Tahun 2004, muara-muara itu kami keruk. Kami bersihkan . Sekarang rata-rata
lebar mulut muara itu sudah 15 meter sampai 20 meter . Kami juga keruk
lumpur-lumpur pada riool bikinan Belanda di Jalan Embung Malang yang sudah
puluhan tahun tidak pernah dikeruk . Perlu waktu dua tahun untuk membersihkan
itu.
Mengapa drainase menjadi sangat vital sehingga menjadi
salah satu prioritas pertama ketika itu?
Sebagai
kota pantai, Surabaya ini dulu sering banjir . Saya ingin membuat preseden
positif dengan menata drainase agar Surabaya bebas banjir untuk membuka mata
masyarakat. Hasilnya, positif. Ketika Jakarta lumpuh karena banjir, Surabaya
tidak banjir . Baru masyarakat sadar dan memberi apresiasi kepada Pemerintah Kota.
Saat ini, jalan-jalan di Surabaya penuh dengan taman. Juga
di lingkungan permukiman. Bagaimana awalnya?
Dulu,
setiap kota punya alun- alun. Di sanalah interaksi sosial antarwarga
berlangsung . Sekarang , interaksi itu pindah ke mall-mall dan plaza . Memang
itu tidak salah . Tapi, ada hal-hal yang tidak bisa diberikan mall atau plaza,
yang hanya bisa diberikan oleh taman . Suasana yang hijau di taman mencerahkan
jiwa siapapun yang menikmatinya. lnteraksi yang terjadi di taman merupakan
sebuah modal sosial yang sangat berharga . Oleh karena itu, saya menganggarkan
dana Rp 1 miliar per kecamatan untuk membangun taman. Memang, meskipun saya
plot uang , saya masih tetap berharap pembangunan taman-taman itu bisa didanai
oleh perusahaan-perusahaan untuk mensponsori pembangunan taman-taman tersebut.
Jika sponsor tidak dapat, setidaknya ada cadangan uang . Jadi, sebelum saya
berhenti menjadi walikota , setiap kecamatan sudah akan memiliki taman.
Kompleks-kompleks rumah susun pun akan saya buatkan taman.
Penghijauan tidak hanya tentang taman, bukan?
Sejak
tahun 2002, saya sudah menanam pohon
lebih dari I juta pohon . Tentang hal ini, tidak sembarang menanam , tapi ada
strategi yang saya lakukan , yakni: menanam pohon yang sudah agak besar karena
tujuan penanaman pohon itu adalah untuk mempercepat penyerapan polutan di kota dan
memproduksi oksigen bagi kota . Selain itu, pohon-pohon yang ditanam juga pohon
-pohon berkanopi dan memiliki nilai estetika tinggi. Jarak tanam pun harus
diperhatikan . Juga pola penanaman jenis pohonnya , dibuat bervariasi : ada
sonokeling , kemboja , jagaranda , dsb . Jika perlu dibuat warna -warni.
Sungguh, elemen estetika fisik itu punya impact yang sangat luar biasa dengan
keharmonisan rohani orang yang tinggal di sebuah lingkungan. Lingkungan yang
tertata dan asri akan menenangkan suasana hati sehingga bisa meredam keinginan
untuk marah , misalnya . Jika anak-anak kita dididik tidak dengan suasana emosi
jiwa yang tidak temperamental akan lebih bagus, bukan? ltu artinya, secara
tidak langsung tata lingkungan memberi dampak pada pola asuh anak.
Bagaimana dengan pendekatan nonfisik?
Harmonisasi
kota juga terkait dengan memberikan rasa aman kepada warga tentang hal-hal yang
mereka paling risaukan . Menurut hasil pemetaan yang saya lakukan , ternyata
mereka paling risau tentang dua hal: biaya pendidikan dan biaya kesehatan .
Maka, saya mencoba melakukan intervensi untuk mengurangi dua beban itu dalam
bentuk subsidi. Tapi toh , pada akhirnya bersentuhan juga dengan kebijakan
fisik kota . Saya jadi walikota, kampung-kampung saya paving. Dalam pikiran
saya , jika jalan kampung bagus, maka lingkungan akan lebih mudah ditata . Dengan
begitu , peluang untuk sakit menurun . ltu artinya , pos pengeluaran untuk
biaya berobat berkurang.
Bagaimana Anda menyikapi sikap warga yang terkadang sulit
menerima fakta sebuah program penertiban, yang kemudian diterjemahkan sebagai
penggusuran?
lntinya
harus ada komunikasi. Saya setiap tahun melakukan pertemuan dengan seluruh
Ketua RW seSurabaya , sekitar 1.500 RW. Tahun pertama (waktu itu di Hotel
Marriot), isi pertemuan dipenuhi dengan caci maki kepada walikota. Bahkan,
akhir-akhir ini sudah dengan Ketua RT. Setiap tahun , caci maki itu semakin
berkurang . Selain itu, setiap tahun saya juga bertemu dengan seluruh Kepala
Sekolah seSurabaya mulai dari tingkat TK hingga SL TA. Juga, dengan Ketua dan
Sekretaris OSIS SMP dan SMU se-Surabaya. Ternyata, hal itu efektif
menghilangkan tawuran pelajar.
Pesan apa yang Anda sampaikan dalam forum-forum itu?
Secara
naluriah, tidak ada orang yang secara utuh menerima policy yang dianggap
mengurangi hak mereka. Pasti ada perlawanan, meskipun skala perlawanannya
berbeda-beda. Saya mencoba memberi kesadaran kepada mereka bahwa jika saya
sebagai walikota bertindak tegas hal itu semata-mata adalah dalam konteks
menjaga harmoni. Tentang penggusuran, saya sampaikan kepada masyarakat bahwa
saya sebagai walikota tidak ingin menggusur mereka . Saya hanya ingin
mengembalikan fungsi semua fasilitas-fasilitas publik yang berubah fungsi.
Trotoar bukan untuk berdagang . Pasar bukan untuk tempat tidur . Sungai bukan
untuk tempat membuang sampah . Jadi , saya akan tetap tegas untuk mengawal
pengembalian fungsi-fungsi fasilitas-fasilitas kota .
Sumber : Walikota Surabaya Bambang D.H, dalam KIPRAH
Volume 30/ Tahun VII/ Oktober-Nopember 2008